Senin, 25 Juli 2011

Jenis jenis Zooplankton

Tigriopus sp. Oithona sp.


Cyclop sp. Akartia sp

Rotifera (Brachionus plicatilis)











DIAPHANOSOMA

Induk Anakan

MORFOLOGI Brachionus plicatilis














JENIS-JENIS Bracionus plicatilis




SIKLUS HIDUP COPEPODA



Cyclopoidae



Harpacticoidae dan Calanoidae




Euplotes
Jenis jenis Zooplankton

Tigriopus sp. Oithona sp.


Cyclop sp. Akartia sp

Rotifera (Brachionus plicatilis)











DIAPHANOSOMA

Induk Anakan

MORFOLOGI Brachionus plicatilis














JENIS-JENIS Bracionus plicatilis




SIKLUS HIDUP COPEPODA



Cyclopoidae



Harpacticoidae dan Calanoidae




Euplotes

ini gambar paling kren, kan?????????????????????????????
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang menjadikan sebagian besar wilayahnya terdiri dari pesisir. Pesisir merupakan daerah yang sarat akan potensi kelautan, tetapi pada dasarnya masyarakat pesisir yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan masih identik dengan masalah kemiskinan yang sampai saat ini masih menjadi fenomena klasik wilayah pesisir, hal ini tergambar dari tingkat sosial ekonomi dan kesejahteraan hidup yang rendah. Dalam struktur masyarakat nelayan, nelayan buruh merupakan lapisan sosial yang paling miskin, sementara sebagian besar nelayan di Indonesia adalah nelayan buruh. Oleh karena itu upaya-upaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan menjadi wacana yang penting dalam pengembangan wilayah pesisir (Astrid Ekaningdyah, 2005).
Peningkatan kesejahteraan dimungkinkan apabila tingkat pendapatan nelayan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Peningkatan kesejahteraan dapat diartikan bahwa kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, keamanan dan sebagainya terjangkau oleh masyarakat nelayan yang pada akhirnya tingkat kemiskinan masyarakat yang rendah akan berkurang dengan sendirinya.
Secara garis besar, ada dua cara orang memandang kemiskinan, yakni : 1) kemiskinan dianggap sebagai sebuah proses, 2) kemiskinan dianggap sebagai suatu akibat fenomena dalam masyarakat.
Pada saat ini pengembangan sub sektor perikanan lebih ditekankan kepada peningkatan produksi hasil-hasil perikanan untuk memenuhi kebutuhan protein dalam negeri, serta untuk meningkatkan devisa Negara melalui kegiatan ekspor. Disamping itu masyarakat nelayan dengan tingkat pendapatan relatif rendah dan pada umumnya miskin perlu mendapat perhatian lebih besar untuk mengurangi tingkat kesenjangan yang ada. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, modernisasi sub sektor perikanan melalui introduksi teknologi maju yang menjadi sarana utama untuk melaksanakan pembangunan perikanan perlu dinilai kembali (Said Ali Harahap, 2003)
Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Indonesia seolah menghadapi dilema, disatu sisi kita dihadapkan pada sumberdaya kelautan dan perikanan yang kaya dan mampu menghasilkan potensi ekonomi yang tidak sedikit, sedangkan disisi lainnya terdapat kenyataan bahwa potensi tersebut belum mampu meningkatkan ekonomi para pelakunya secara signifikan. Data selama ini menunjukkan bahwa pembangunan perikanan telah mampu meningkatkan produksi, devisa dan tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia, tetapi pembangunan perikanan Nasional masih belum berhasil meningkatkan kesejahteraan nelayan, terutama nelayan tradisional dan buruh nelayan (Akhmad Fauzi, 2005).
Desa Labuhan Lombok Kecamatan Pringgabaya merupakan salah satu Desa yang terdapat dalam Wilayah Administratif Kabupaten Lombok Timur dan merupakan salah satu desa dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Jumlah penduduk Desa Labuhan Lombok 20.962 orang dengan rata-rata tingkat pendidikan Sarjana sebanyak 254 orang, SMA sebanyak 286 orang, SMP sebanyak 285 orang, tamat SD sebanyak 619 dan tidak tamat SD sebanyak 3.545 orang. Pada umumnya mata pencaharian masyarakat Desa Labuhan Lombok terdiri dari petani, pedagang, nelayan dan lain-lain dengan pendapatan rata-rata Rp. 900.000,-/bulan. Berdasarkan data kelompok nelayan Desa Labuhan Lombok terdapat 15 bagan perahu dengan jumlah nakhoda 15 orang dan jumlah ABK 53 orang dan alat tangkap tersebut merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh nelayan dalam upaya mengeksploitasi sumberdaya alam (khususnya ikan) adalah bagan perahu.
Tabel 1.1. Monografi desa Labuhan Lombok Tahun 2009
Jml Penduduk TINGKAT PENDIDIKAN MATA PENCAHARIAN
BH SD SMP SMA PT Petani PNS Pedagang Nelayan Lain-lain
20.962 3.545 619 285 286 254 1.751 80 1.313 158 351
Sumber : Monografi Desa Labuhan Lombok Tahun 2009
Bagan perahu dalam setiap kali operasi biasanya terdiri dari 4 – 5 orang yang terdiri dari satu orang Nakhoda dan yang lainnya adalah ABK. Sistem pembagian hasil tangkapan biasanya diatur berdasarkan kesepakatan antara pemilik bagan perahu, nakhoda dan ABK, dimana ABK umumnya mendapatkan proporsi hasil yang paling kecil.

1.2 Perumusan Masalah
Bagan perahu merupakan salah satu alat yang digunakan oleh nelayan Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur dalam melakukan penangkapan ikan. Umumnya pembagian hasil tangkapan dibagi tidak merata kepada pemilik, Nakhoda dan ABK. Sistem pembagian hasil tidak berdasarkan UU bagi hasil No. 16 Tahun 1964 tentang pembagian yang seimbang antara nelayan pemilik dan ABK tetapi lebih didasarkan kepada tradisi masyarakat sejak dahulu dan atau berdasarkan kesepakatan antara pemilik, Nakhoda dan ABK. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, diketahui bahwa dalam pembagian hasil tangkapan, ABK mendapatkan bagian yang paling sedikit jika dibandingkan dengan Nakhoda maupun pemilik. Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini dirumuskan masalah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan bagan perahu di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan bagan perahu di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.


1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi bagi pemerintah, pemerhati perikanan, lembaga akademis dan semua pihak yang terkait dalam upaya pembangunan sektor kelautan dan perikanan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Perahu
Bagan perahu adalah jaring angkat yang dipasang atau dibangun di atas satu atau lebih perahu yang memakai jangkar atau tidak pada operasi penangkapan. Selanjutnya dikatakan bahwa bagan perahu biasanya terbuat dari dua buah perahu (untuk unit dua perahu), yang mana kedua perahu ini ditempatkan pada posisi sejajar serta antara satu perahu dengan perahu yang lainnya dihubungkan dengan dua buah batang kayu atau bambu sehingga berbentuk segi empat dan pada waktu operasi penangkapan dilakukan, lampu dipasang ditengah-tengah antara kedua perahu itu. (Anonymous, 1975). Bagan perahu merupakan alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang yang terbentang dalam air secara horizontal dengan menggunakan batang bambu atau kayu sebagai rangka dan dapat di operasikan di daerah sekitar pantai (Anonymous, 1995).
Ayodhyoa (1981), menyatakan bahwa jaring angkat merupakan alat penangkapan ikan yang menggunakan lampu sebagai alat bantu pengumpul ikan. Jenis-jenis alat yang termasuk dalam kelompok ini antara lain Stick Held Dip Net (Jepang, Rusia dan Pantai Afrika) dan bagan (Indonesia). Semua jenis alat tangkap tersebut pada prinsipnya sama, yaitu menarik dan mengumpulkan ikan dengan bantuan cahaya lampu dan menangkap ikan yang berkumpul dengan jalan mengangkat jaring yang telah dipasang terlebih dahulu ke atas permukaan air.
Sunyoto (1993) dalam Kusmayani T (2004) menyatakan bahwa tata cara pengoperasian bagan perahu diawali dengan penurunan jaring ke dasar perairan kemudian lampu diturunkan dan digantung di atas permukaan air. Untuk memberi bentuk jaring yang dalam, maka bagian tengah jaring diberikan pemberat sebagai daya tenggelam jaring. Apabila sudah terlihat banyak ikan yang terkumpul maka jaring diangkat dengan memutar kerekan sehingga tali penggantung jaring tergulung pada bambu.
Kusmayani T (2004) menyatakan bahwa pengoperasian bagan perahu dilakukan oleh 4 – 5 orang pada malam hari dengan alat bantu lampu petromak untuk menarik perhatian ikan. Daerah pengoperasian alat ini tidak tetap (berpindah-pindah), adapun jenis ikan hasil tangkapannya antara lain ikan teri (Stelephorus commersonii), cumi-cumi (Loligo, sp), Tembang (Sardinella lessoniana).
2.2 Sistem Bagi Hasil
Hubungan kerja antara pemilik perahu dengan nelayan buruh dalam organisasi penangkapan ikan, khususnya mengenai sistem bagi hasil sangat berpengaruh terhadap tinggi-rendahnya pendapatan yang diperoleh nelayan, sistem bagi hasil itu sendiri terbentuk sebagai konsekuensi dari tingginya resiko usaha penangkapan (Satria, 2002).
UU bagi hasil No 16 tahun 1964 mengatur pembagian yang seimbang antara nelayan pemilik dan penerima, untuk perahu layar minimal 75 % dari hasil bersih, dan perahu motor minimum 40% dari hasil bersih untuk nelayan penggarap. Penetapan ini menjadi sebab belum dapat optimalnya sistem bagi hasil yang memuaskan dan adil pada pelaku usaha perikanan, (Rizal, A dan Fitrianto, R, 2010).
Dipilihnya sistem bagi hasil daripada sistem upah atau gaji dalam menciptakan keadilan berusaha di bidang perikanan, baik kegiatan perikanan budidaya maupun perikanan tangkap di dasari oleh, yaitu: 1) kecenderungan bahwa nelayan memilih sistem bagi hasil dalam menentukan imbalan kerja yang mereka lakukan, 2) sikap spekulatif (gambling) yang kuat mengakar dalam kehidupan nelayan, 3) hasil tangkapan yang diperoleh dari usaha rakyat sektor penangkapan ikan masih tidak menentu, sedangkan alasan dari para juragan yang lebih suka memilih sistem bagi hasil adalah sebagai usaha untuk menghindari kerugian, dengan kata lain, penerapan upah bagi para juragan berarti pengeluaran yang pasti padahal usaha penangkapan ikan di laut bisa tidak menghasilkan apa-apa dalam waktu yang cukup lama (Masyhuri, 1999).
Perjanjian Kerja (Work Agreement) yang didalamnya mengatur sistem pengupahan dan sistem bagi hasil serta sistem hubungan kerja antara pekerja dan pengusaha diwajibkan untuk dibuat secara tertulis bagi kapal-kapal penangkap ikan yang mempekerjakan awak kapal. Dalam konsep bagi hasil seringkali tidak mengatur tentang sistem hubungan kerja mengingat besarnya hasil tangkapan ikan dibagi berdasarkan kesepakatan atau kebiasaan, sedangkan dalam hal kesejahteraan konsep yang termuat dalam Konvensi tidak semata-mata menjelaskan beban dan tanggungjawab yang harus dipikul oleh para pemilik kapal yang pada umumnya adalah nelayan. Namun di Indonesia perjanjian kerja tertulis di sektor perikanan belum lazim diberlakukan, termasuk kapal-kapal skala besar milik nelayan, lain halnya pada kapal-kapal besar milik perusahaan perikanan skala besar umumnya sudah menerapkan perjanjian kerja tertulis. Di sektor perikanan tangkap umumnya masih menganut sistem bagi hasil. Selama ini hubungan antara pemilik kapal dan awak kapal dalam sistem bagi hasil masih didasarkan atas kesepakatan yang tidak tertulis. Banyak diantara pemilik kapal juga merangkap sebagai awak kapal. Oleh karena itu tanggung jawab antara pemilik kapal (employer), nahkoda (skipper), dan Anak Buah Kapal (ABK) sebagaimana diatur dalam konvensi belum dapat dilaksanakan secara utuh (Herlina Tambunan, 2008).
Secara teoritis, pola yang diatur oleh pemerintah sangat bagus dan dapat menciptakan keadilan, namun yang terjadi di lapang sangat berbeda karena nelayan pemilik lebih memilih sistem bagi hasil secara adat yang menguntungkan satu pihak. ketidakmampuan nelayan penggarap dalam menentukan pola bagi hasil yang mengukuhkan nelayan dalam kubangan kemiskinan salah satunya disebabkan oleh posisi tawar mereka yang sangat lemah sehingga menjadi “bulan-bulanan” pihak yang kuat yang notabene adalah nelayan pemilik. (Herlina Tambunan, 2008).
2.3 Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan
Kemiskinan yang merupakan indikator ketertinggalan masyarakat nelayan disebabkan oleh tiga hal utama, yaitu 1) kemiskinan struktural, 2) kemiskinan super-struktural, dan 3) kemiskinan kultural. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena pengaruh faktor atau variabel eksternal di luar individu. Variabel-variabel tersebut adalah struktur sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan insentif atau disinsentif pembangunan, ketersediaan fasilitas pembangunan, ketersediaan teknologi, dan ketersediaan sumberdaya pembangunan khususnya sumberdaya alam. Hubungan antara variabel-variabel ini dengan kemiskinan umumnya bersifat terbalik, artinya semakin tinggi intensitas, volume dan kualitas variabel-variabel ini maka kemiskinan semakin berkurang. Khusus untuk variabel struktur sosial ekonomi, hubungannya dengan kemiskinan lebih sulit ditentukan, yang jelas bahwa keadaan sosial ekonomi masyarakat yang terjadi di sekitar atau di lingkup nelayan menentukan kemiskinan dan kesejahteraan mereka. Kemiskinan super-struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena variable-variabel kebijakan makro yang tidak begitu kuat berpihak pada pembangunan nelayan. Variabel-variabel super-struktur tersebut diantaranya adanya kebijakan fiskal, kebijakan moneter, ketersediaan hukum dan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan yang diimplementasikan dalam proyek dan program pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini sangat sulit diatasi bila saja tidak disertai keinginan dan kemauan secara tulus dari pemerintah untuk mengatasinya. Kesulitan tersebut juga disebabkan karena kompetisi antar sektor, antar daerah, serta antar institusi yang membuat, sehingga adanya ketimpangan dan kesenjangan pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini hanya bisa diatasi apabila pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah memiliki komitmen khusus dalam bentuk tindakan-tindakan bagi kepentingan masyarakat miskin, dengan kata lain affirmative actions perlu dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang disebabkan karena variabel-variabel yang melekat, inheren, dan menjadi gaya hidup tertentu, akibatnya sulit untuk individu bersangkutan keluar dari kemiskinan itu karena tidak disadari atau tidak diketahui oleh individu yang bersangkutan. Variabel-variabel penyebab kemiskinan kultural adalah tingkat pendidikan, pengetahuan, adat, budaya, kepercayaan, kesetiaan pada pandangan-pandangan tertentu, serta ketaatan pada panutan. Kemiskinan secara struktural ini sulit untuk diatasi. Umumnya pengaruh panutan (patron) baik yang bersifat formal, informal, maupun asli (indigenous) sangat menentukan keberhasilan upaya-upaya pengentasan kemiskinan kultural ini. Penelitian dibeberapa negara Asia yang masyarakatnya terdiri dari beberapa golongan agama menunjukkan juga bahwa agama serta nilai-nilai kepercayaan masyarakat memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap status sosial ekonomi masyarakat dan keluarga. (Kusnadi, 2004).
Nikijuluw (2005) menyatakan bahwa rendahnya penghasilan nelayan tradisional sebagai salah satu sub sistem masyarakat pedesaan pantai, karena teknologi penangkapan ikan laut pada umunya masih rendah atau masih menggunakan peralatan tradisional akibatnya, nelayan tradisonal sedikit sekali memiliki penyangga ekonomi untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Kehidupan mereka dari hari kehari sangat fluktuatif karena pendapatan dari hasil menangkap ikan selain rata-rata kecil juga bersifat tidak pasti, apalagi saat musim badai datang kadang-kadang hingga berhari-hari mereka tidak melaut dikarenakan ombak dan angin yang sangat besar dan kencang, sementara dapur mereka menuntut untuk terus mengepul.
2.4 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kondisi nyata di lapangan bahwa masyarakat nelayan Bagan Perahu di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur pada umumnya tergolong miskin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi yang ada terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. 1) faktor faktor internal, meliputi : a) keterbatasan sumberdaya manusia nelayan, b) keterbatasan kemampuan modal dan teknologi penangkapan, c) hubungan kerja (pemilik perahu dan buruh nelayan) dalam organisasi penangkapan ikan kurang menguntungkan nelayan buruh, d) kesulitan melakukan diversivikasi usaha perikanan, e) ketergantungan yang tinggi terhadap okupasi melaut, dan f) gaya hidup boros, sehingga kurang berorientasi kemasa depan, 2) faktor-faktor eksternal meliputi : a) kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi kepada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional, parsial dan tidak memihak nelayan tradisional, b) sistem perdagangan perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara, c) kerusakan ekosistem pesisisr dan laut karena pencemaran dari wilayah darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, perusakan terumbu karang, dan konversi kawasan bakau dikawasan pesisir, d) penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, e) penegakan hukum yang lemah terhadap perusakan lingkungan, f) terbatasnya teknologi pengolahan hasil tangkapan pasca tangkap, g) terbatasnya peluang kerja disektor non perikanan yang tersedia di desa-desa nelayan, h) kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan melaut sepanjang tahun, i) isolasi geografis desa nelayan yang mengganggu mobilitas barang, jasa, modal dan manusia.
Dari uraian di atas, dalam penelitian ini dapat digambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut :













Gambar 1. Kerangka pemikiran
NELAYAN BAGAN PERAHU


PENGALAMAN


PENDIDIKAN



MODAL




BAGI HASIL


LAIN-LAIN





PENDAPATAN NELAYAN
BAGAN PERAHU


III. MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai bulan Juni – Juli 2011
3.2 Variabel-variabel penelitian
Variabel –variabel dalam penelitian ini adalah
a. Pendapatan
Kondisi prekonomian keluarga nelayan bagan perahu yang diukur atau di tentukan dengan jumlah aset yang di miliki.
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan yang di miliki nelayan bagan perahu yang di tentukan dengan lama tahun sekolah.
c. Modal
Jumlah biaya yang di gunakan atau di keluarkan setiap kali melakukuan operasi penangkapan.
d. Pengalaman
Lama waktu melakukan penangkapan ikan dengan bagan perahu. dan
e. Bagi hasil
Sistem bagi hasil tangkapan bagan perahu oleh nelayan pemilik, nahkoda dan ABK berdasarkan jumlah hasil tangkapan.


3.3 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Operasionalisasi variabel penelitian ini seperti tertera pada tabel 2 berikut ini :
Tabel 2. Operasionalisasi variabel penelitian
No. Variabel Notasi satuan
1. Pendapatan Yp -
2. Pendidikan Educ -
3. Modal Kap Rupiah
4. Pengalaman Exp Tahun
5. Bagi Hasil BH Rupiah
3.4 Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dari penelitian ini terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer didapatkan dari hasil wawancara langsung dengan nelayan bagan perahu berdasarkan kuesioner yang telah disususun, sedangkan data skunder didapatkan dari Kantor Desa Labuhan Lombok, Dinas/Instansi terkait.
3.5 Design Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan study deskriftif yaitu mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari responden (sampel) dan kemudian menganalisis data-data tersebut untuk diketahui hasilnya, sedangkan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dimana peneliti memberikan kesempatan yang sama kepada semua subjek untuk menjadi sampel tanpa diskriminatif. (Arikunto S, 2000)
3.6 Analisa Data
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan bagan perahu di desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur data dianalisis dengan menggunakan Regresi Linear. Anwar I, (2003) menyatakan bahwa kegunaan Regresi Linear adalah untuk meramalkan (memprediksi) variable terikat (Y) bila variable bebas (X) diketahui, Regresi Linear dapat dianalisis karena didasari oleh hubungan fungsional atau hubungan sebab akibat (kausal) variable bebas (X) terhadap variable terikat (Y). Persamaan Regresi Linear dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :
Y = Subyek variable terikat yang diproyeksikan
Educ = Pendidikan
M = Modal
Exp = Pengalaman
BH = Bagi Hasil
Selanjutnya pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Sofware SPSS 17.
Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT)
Pangkalan Data
Himpunan data-data berkaitan yang dikongsi bersama oleh pelbagai kategori pengguna, bagi memenuhi kehendak dan keperluan maklumat sesebuah organisasi
KONSEP PANGKALAN DATA
Data Vs Maklumat
– Data : merupakan fakta mentah mengenai sesuatu perkara dan belum diproses
• Eg:harga barang, markah pelajar
– Maklumat :merupakan hasil daripada data yang telah diproses yang mempunyai makna dan berguna kepada pengguna.
• Eg:perbandingan harga mengikut tempat :Prestasi pelajar


• Bagaimana komputer menyimpan data
– Bermula dari unit terkecil hingga yang terbesar dalam pangkalandata iaitu:
• Bit – byte – medan/field – rekod – fail – pangkalan data.

Pangkalan Data

Latar Belakang PDPT
Ditjen DIKTI memerlukan data dan informasi yang berkaitan dengan pendidikan tinggi dalam rangka menentukan kebijakan-kebijakan;

Diperlukan integrasi data dan informasi, sehingga Ditjen DIKTI dapat mengevaluasi standard dan kebijakan yang telah dikeluarkan berdasarkan data dan informasi tersebut yang menjadi dasar analisis untuk pembuatan kebijakan-kebijakan Pendidikan Tinggi.
Tujuan Pengembangan PDPT
Mendefinisikan dan mencari kesepadanan data yang ada di internal Ditjen DIKTI dan entitas lainnya di siklus manajemen pendidikan tinggi, seperti BAN-PT, Kopertis dan PSP (Pusat Statistik Pendidikan) Balitbang.
Menjamin integritas dan konsistensi antara data yang berasal dari Ditjen DIKTI maupun entitas lainnya di siklus manajemen pendidikan tinggi.
Mendefinisikan dan mengklarifikasi proses bisnis masing-masing entitas di dalam siklus manajemen pendidikan tinggi serta menjamin aliran data yang komprehensif dari dan ke Ditjen DIKTI dan entitas pendidikan tinggi lainnya.
Merancang dan mengimplementasikan Database terpusat Ditjen DIKTI.
Menghasilkan informasi yang komprehensif serta menjamin integritas, kosistensi dan validitas data yang pada umumnya berasal dari database Ditjen DIKTI yang memiliki struktur, platform, teknologi, dan produk database yang berbeda.

Pengembangan PDPT Terkait Policy/Kebijakan
Pengembangan PDPT Terkait Sistem Informasi
Pengembangan PDPT Terkait Sistem Informasi
Pengembangan PDPT Terkait Sistem Informasi
Pengembangan PDPT Terkait Sistem Informasi
Pengembangan PDPT Terkait Sistem Informasi
Pengembangan PDPT Terkait Sistem Informasi
Rencana Business Operating Model
Pengelolaan portofolio PT oleh DIKTI
Prinsip business PDPT
Instrumen yang masih melekat pada otritas pusat di dikti antara lain adalah funding, sehingga proses pengambilan keputusan harus dengan informasi yang akurat
Memungkinkan untuk mendapatkan data yang valid, terutama KPI Pendidikan Tinggi Nasional untuk pengambilan keputusan / kebijakan yang tepat
Memudahkan akses terpadu terhadap sumber informasi penting (misalnya seluruh KPI bisa dilihat dengan mudah pada satu layar)
Pengambilan keputusan/kebijakan harus bisa dilakukan secara holistik
Aktifitas utama pada pendidikan tinggi adalah di bidang akademik, jadi KPI yang utama seharusnya terkait dengan bidang akademik
Seluruh data yang ada di lingkungan Ditjen DIKTI adalah milik Ditjen DIKTI, sehingga seyogyanya dapat di manfaatkan bersama antar direktorat/setditjen
Prinsip business PDPT
Ditjen DIKTI harus bisa bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam siklus pendidikan tinggi nasional (BAN-PT, BALITBANG, BNSP, KAP, PT, Bappenas, Pemerintah Daerah) guna memaksimalkan fungsi evaluasi dan monitoring, yang akan bermanfaat untuk memperbaharui kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Bisa melakukan agregasi laporan dari berbagai sumber untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Memanfaatkan dan mengoptimalkan penggunaan infrastruktur yang sudah dimiliki saat ini.
Ditjen Dikti bekerjasama erat dengan BAN-PT untuk menjamin bahwa data yang common yang dibutuhkan kedua lembaga tersebut, cukup dikirim satu kali (1x) ke PDPT.
Dalam proses akreditasi oleh BAN-PT, PT harus menggunakan data yang sudah pernah dimasukkan ke PDPT sebagai penjelasan awal kepada akreditor BAN-PT, sehingga akreditor sebelum melakukan akreditasi telah memiliki informasi yang memadai.

Ruang Lingkup Keterkaitan Data PDPT
Arsitektur Informasi PDPT
Rencana Transfer Data
IMPLEMENTASI PDPT DIKTI
Usulan Transfer Data
DATA BASE PENGEMBANGAN PDPT 2010

ARSIPARIS

Rabu, 20 Juli 2011

aplikasi uji skor

Lampiran 1. Analisis Hasil Penilaian Panelis Terhadap Ikan Pindang Dengan Uji Hedonik

A. Perhitungan uji hedonik ikan pindang dengan konsentrasi garam 300 gram
No Panelis Kenampakan Bau Tekstur Rasa Lendir Total Rerata
1 Sayun 8 7 9 7 8 39 7.80
2 Mahdi 8 7 8 7 9 39 7.80
3 Opik 8 7 8 7 8 38 7.60
4 Satar 8 8 9 7 8 40 8.00
5 Mala 8 7 8 7 8 38 7.60
6 Dewi 7 8 9 7 9 40 8.00
7 Desi 8 7 7 7 8 37 7.40
8 Egik 8 8 7 7 9 39 7.80
9 Pandi 8 7 7 7 9 38 7.60
10 Nasrun 7 7 7 7 9 37 7.40
11 Ati 8 8 7 7 9 39 7.80
12 Iwan 8 7 9 7 9 40 8.00
13 Ari 7 8 9 7 9 40 8.00
14 Diki 8 7 8 7 9 39 7.80
15 Joko 8 8 8 7 9 40 8.00
Jumlah 116.60
Rata-rata 7.77


=
=
= 0.2



Interval nilai sensori kenampakan chikuwa ikan pindang adalah 7.67 – 7.87, dan untuk penulisan nilai akhir kenampakan ikan pindang diambil nilai terkecil adalah 7.67 dan dibulatkan menjadi 8.0 yang berarti panelis SANGAT SUKA terhadap produk ikan paindang.

B. Perhitungan uji hedonik ikan pindang dengan konsentrasi garam 500 gram
No Panelis Kenampakan Bau Tekstur Rasa Lendir Total Rerata
1 Sayun 9 8 9 9 9 44 8.80
2 Mahdi 9 8 8 8 9 42 8.40
3 Opik 9 8 8 8 9 42 8.40
4 Satar 9 8 9 9 9 44 8.80
5 Mala 9 8 8 9 9 43 8.60
6 Dewi 9 8 8 9 9 43 8.60
7 Desi 9 8 8 9 9 43 8.60
8 Egik 9 9 9 9 9 45 9.00
9 Pandi 9 9 8 9 9 44 8.80
10 Nasrun 9 8 9 9 9 44 8.80
11 Ati 9 8 9 9 9 44 8.80
12 Iwan 9 8 9 9 9 44 8.80
13 Ari 9 8 9 8 9 43 8.60
14 Diki 9 8 8 8 9 42 8.40
15 Joko 9 9 8 8 9 43 8.60
Jumlah 130.00
Rata-rata 8.67


=
=
= 0.17



Interval nilai sensori kenampakan chikuwa ikan pindang adalah 8.58 – 8.75, dan untuk penulisan nilai akhir kenampakan ikan pindang diambil nilai terkecil adalah 8.58 dan dibulatkan menjadi 9.0 yang berarti panelis AMAT SANGAT SUKA terhadap produk ikan pindang.














C. Perhitungan uji hedonik ikan pindang dengan konsentrasi garam 700 gram
No Panelis Kenampakan Bau Tekstur Rasa Lendir Total Rerata
1 Sayun 6 7 9 6 9 37 7.40
2 Mahdi 6 7 8 6 9 36 7.20
3 Opik 6 7 8 6 9 36 7.20
4 Satar 6 7 9 6 9 37 7.40
5 Mala 6 7 8 6 9 36 7.20
6 Dewi 6 8 8 6 9 37 7.40
7 Desi 7 8 8 6 9 38 7.60
8 Egik 7 7 9 6 9 38 7.60
9 Pandi 7 7 8 6 9 37 7.40
10 Nasrun 9 7 9 6 9 40 8.00
11 Ati 6 8 9 6 9 38 7.60
12 Iwan 6 7 9 6 9 37 7.40
13 Ari 9 8 9 6 9 41 8.20
14 Diki 7 7 8 6 9 37 7.40
15 Joko 7 7 8 6 9 37 7.40
Jumlah 112.4
Rata-rata 7.49


=
=
= 0.27



Interval nilai sensori kenampakan chikuwa ikan pindang adalah 7.36 – 7.63, dan untuk penulisan nilai akhir kenampakan ikan pindang diambil nilai terkecil adalah 7.36 dan dibulatkan menjadi 7.0 yang berarti panelis KURANG SUKA terhadap produk ikan pindang.

aplikasi uji skor

Lampiran 2. Analisis Hasil Penilaian Panelis Terhadap Ikan Pindang Dengan Uji Skor

A. Perhitungan uji SKOR ikan pindang dengan konsentrasi garam 300 gram

No Panelis Kenampakan Bau Tekstur Lendir Total Rerata
1 Sayun 3 3 5 3 14 2.80
2 Mahdi 3 3 5 3 14 2.80
3 Opik 3 1 3 3 10 2.00
4 Satar 1 3 3 3 10 2.00
5 Mala 1 3 3 3 10 2.00
6 Dewi 1 1 3 3 8 1.60
7 Desi 3 3 5 3 14 2.80
8 Egik 3 1 3 3 10 2.00
9 Pandi 3 3 3 5 14 2.80
10 Nasrun 1 1 5 1 8 1.60
11 Ati 1 3 3 1 8 1.60
12 Iwan 1 1 3 3 8 1.60
13 Ari 1 1 3 1 6 1.20
14 Diki 3 3 3 5 14 2.80
15 Joko 3 3 3 5 14 2.80
Jumlah 32.40
Rata-rata 2.16


=
=
= 0.57



Interval nilai organoleptik ikan pindang adalah 1.87 – 2.45, dan untuk penulisan nilai akhir kenampakan ikan pindang diambil nilai terkecil adalah 1.87 dan dibulatkan menjadi 2.0 artinya SANGAT TIDAK SEGAR.


B. Perhitungan uji SKOR ikan pindang dengan konsentrasi garam 500 gram

No Panelis Kenampakan Bau Tekstur Lendir Total Rerata
1 Sayun 3 1 6 3 13 2.60
2 Mahdi 3 1 6 3 13 2.60
3 Opik 3 3 5 5 16 3.20
4 Satar 3 1 5 3 12 2.40
5 Mala 3 3 5 5 16 3.20
6 Dewi 3 3 6 5 17 3.40
7 Desi 3 3 5 5 16 3.20
8 Egik 3 1 5 5 14 2.80
9 Pandi 3 1 5 3 12 2.40
10 Nasrun 3 3 6 5 17 3.40
11 Ati 3 3 6 3 15 3.00
12 Iwan 3 1 3 3 13 2.60
13 Ari 3 1 5 5 14 2.80
14 Diki 3 3 6 5 17 3.40
15 Joko 3 3 6 5 17 3.40
Jumlah 44.40
Rata-rata 2.96


=
=
= 0.36



Interval nilai organoleptik ikan pindang adalah 2.78 – 3.14, dan untuk penulisan nilai akhir kenampakan ikan pindang diambil nilai terkecil adalah 2.78 dan dibulatkan menjadi 3.0 artinya TIDAK SEGAR.


C. Perhitungan uji SKOR ikan pindang dengan konsentrasi garam 700 gram

No Panelis Kenampakan Bau Tekstur Lendir Total Rerata
1 Sayun 3 1 6 1 11 2.20
2 Mahdi 3 1 6 3 13 2.60
3 Opik 3 1 6 3 13 2.60
4 Satar 3 1 6 1 11 2.20
5 Mala 3 1 6 3 13 2.60
6 Dewi 3 1 6 1 11 2.20
7 Desi 3 1 6 3 13 2.60
8 Egik 3 1 6 3 13 2.60
9 Pandi 3 1 6 1 11 2.20
10 Nasrun 3 1 6 1 11 2.20
11 Ati 3 1 6 3 13 2.60
12 Iwan 1 1 6 1 9 1.80
13 Ari 1 1 6 3 11 2.20
14 Diki 1 1 6 1 9 1.80
15 Joko 3 1 6 1 11 2.20
Jumlah 34.60
Rata-rata 2.31


=
=
= 0.27



Interval nilai organoleptik ikan pindang adalah 2.17 – 2.45, dan untuk penulisan nilai akhir kenampakan ikan pindang diambil nilai terkecil adalah 2.17 dan dibulatkan menjadi 2.0 artinya SANGAT TIDAK SEGAR.