STRATEGI
PEMBERDAYAAN PETAMBAK GARAM
DI
KABUPATEN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT
SUBHAN, MOHAMMAD
Dosen Fakultas Perikanan
Universitas Gunung Rinjani
Selong-Lombok Timur
Email :amakbaeng@yahoo.co.id
baengamak77@Gmail.com
ABSTRAK
Tujuan
dari penelitian ini Untuk mengetahui strategi pemberdayaan petambak garam di
Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif yang digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi stakeholder dan merumuskan strategi
pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur. Proses pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan metode observasi/wawancara dan studi pustaka. Persepsi stakeholder
dianalisis dengan analisis
kualitatif dan Untuk menentukan strategi pemberdayaan petambak garam di
Kabupaten Lombok Timur dilakukan dengan analisis SWOT
Berdasarkan
analisis SWOT yang dilakukan, maka strategi pemberdayaan petambak garam di
Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain : Startegi SO
yaitu memaksimalkan potensi lahan tambak garam dan keberagaman penggunaan garam
dengan memanfaatkan program pemerintah.
Strategi ST adalah meningkatkan pengetahuan petambak garam tentang
teknologi produksi yang inovatif dan ramah lingkungan. Strategi WO terdiri dari menjalin kemitraan antara
petambak garam dengan pemerintah dan Badan Usaha Milik Daerah, mengadakan petak
percontohan yang melibatkan petambak garam.
Strategi WT terdiri dari meningkatkan penyuluhan tentang peluang usaha
garam dan penyuluhan manajemen pengembangan usaha garam
Kata
Kunci
: strategi pemberdayaan, petambak garam,
lombok timur, nusa tenggara barat.
ABSTRACT
The
purpose of this study was to determine the strategy of empowering salt farmers
in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. This study uses a
qualitative approach that is used to obtain data on stakeholder perceptions and
formulate a strategy for empowering salt farmers in East Lombok Regency. The
process of data collection is done using the method of observation / interview
and literature study. Stakeholder perceptions were analyzed by qualitative
analysis and To determine the strategy of empowering salt farmers in East
Lombok Regency carried out with a SWOT analysis
Based on
the SWOT analysis carried out, the strategy for empowering salt farmers in East
Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province is: SO strategy is to maximize the
potential of salt ponds and the diversity of salt use by utilizing government
programs. ST's strategy is to increase the knowledge of salt farmers about
innovative and environmentally friendly production technologies. The WO
strategy consists of establishing partnerships between salt farmers and the
government and Regional Owned Enterprises, holding demonstration plots
involving salt farmers. The WT strategy consists of increasing education about
salt business opportunities and counseling on the development of salt business
management
Keywords: empowerment strategy, salt
farmers, East Lombok, West Nusa Tenggara
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Proses produksi garam di Indonesia masih sangat tergantung
kepada faktor cuaca. Curah hujan
merupakan faktor pemberi dampak negatif bagi produksi garam mengingat kondisi
tambak garam yang dilakukan di sentra-sentra garam yang masih bersifat
tradisional. Garam di Indonesia
diproduksi dengan menguapkan air laut yang dipompa kelahan penggaraman (Hernanto dan Kwartatmono, 2011 dalam Kementerian Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia, 2017).
Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi
di Indonesia yang mempunyai kawasan potensial dikembangkannya usaha produksi
garam. Beberapa Kabupaten/Kota yang mempiliki
lahan potensial untuk pengembangan produksi garam di Provinsi Nusa Tenggara
Barat antara lain : Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten
Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Bima dan Kota Bima (Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia, 2017)
Potensi lahan tambak garam di Kabupaten Lombok Timur yaitu
seluas 1.383.80 Ha yang terdiri dari lahan produktif seluas 1.177.57 Ha dan
lahan tidak produkstif seluas 205.56 Ha.
Keseluruhan luas lahan tersebut tersebar di dua Kecamatan dalam wilayah
administratif Kabupaten Lombok Timur yaitu Kecamatan Keruak dan Kecamatan
Jerowaru. Sebaran lahan tambak garam di
Kecamatan meliputi Desa Pijot dan Desa Ketapang Raya, sedangkan di Kecamatan
Jerowaru meliputi Desa Jerowaru, Desa Pandan Wangi, Desa Pemongkong, Desa Batu
Nampar Selatan, Desa Pene, Desa Seriwe, Desa Wakan dan Desa Ekas Buana (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten
Lombok Timur, 2016).
Teknologi produksi garam yang sedang dikembangkan di
Indonesia antara lain : Teknologi Ulir Filter dan Geomembran, Salt House, Corporate Farming dan Bestekin. Teknologi produksi garam di Kabupaten Lombok
Timur dilakukan dengan teknologi tradisional, dimana teknologi ini didapatkan
secara turun temurun. Dibandingkan
dengan wilayah lain di Indonesia, Inovasi teknologi produksi garam yang
digunakan oleh petambak garam di Kabupaten Lombok Timur relatif terbelakang.
Petambak garam merupakan salah satu faktor utama yang
menentukan keberhasilan produksi garam, karena sehebat apapun teknologi yang
ada, apabila petambak garam tidak memilki semangat untuk maju, maka perkembangan
teknologi tersebut tidak akan bermanfaat sebagaimana mestinya. Berdasarkan pertimbangan kondisi tersebut,
maka diperlukan kajian tentang strategi pemberdayaan petambak garam di
Kabupaten Lombok Timur.
1.2 Rumusan masalah
Bagaimana
strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa
Tenggara Barat?
1.3 Tujuan
Untuk
mengetahui strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur
Provinsi Nusa Tenggara Barat.
II
METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2018
sampai dan bulan November 2018 di Kabupaten Lombok Timur
2.2. Prosedur Penelitian dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
yang digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi stakeholder dan merumuskan strategi pemberdayaan petambak garam di
Kabupaten Lombok Timur. Proses
pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi/wawancara dan
studi pustaka. Persepsi stakeholder dianalisis dengan analisis kualitatif dan
Untuk menentukan strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur
dilakukan dengan analisis SWOT.
III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Persepsi Stakeholder
Kabupaten
Lombok Timur memiliki lahan potensial yang cukup luas untuk pengembangan usaha
produksi garam. Aplikasi teknologi
produksi yang inovatif dan ramah lingkungan akan membantu meningkatkan produksi
baik dari segi kualitas dan kuantitas, sehingga dengan aplikasi yang inovatif
maka pemanfaatan garam untuk berbagai kebutuhan baik untuk kebutuhan konsumsi
maupun untuk kebutuhan industri akan dapat terpenuhi.
![]() |
Beberapa
hal yang menjadi kendala dalam pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok
Timur antara lain rendahnya kualitas sumberdaya manusia petambak garam terutama
dari segi tingkat pendidikan yang masih rendah.
Rendahnya tingkat pendidikan ini mempengaruhi pola fikir petambak garam
itu sendiri. Kualitas sumberdaya manusia
petambak garam yang demikian akan mempengaruhi kemampuan untuk menyerap
berbagai informasi dan teknologi, keterbukaan petambak garam terhadap teknologi
baru sehingga menjadi kendala utama dalam melakukan pemberdayaan petambak
garam.
![]() |
Pemerintah
pusat dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sejak
Tahun 2011 telah mencanangkan program pemberdayaan Usaha Garam Rakyat secara
Nasional, dimana Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu lokasi program
tersebut. Selain itu, terdapat Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Lombok Timur yang melakukan jual beli
garam konsumsi. Tentunya kedua hal
tersebut menjadi peluang bagi masyarakat petambak garam untuk memajukan usaha
yang ditekuninya. Kenyataan yang terjadi
di lapangan bahwa petambak garam belum semangat secara keseluruhan dalam
mengembangkan usaha produksi garam.
Bahkan, dibeberapa lokasi telah terjadi alih fungsi lahan tambak garam
menjadi lahan tambak ikan dan tambak udang.
Petambak
garam di Kabupaten Lombok Timur mempunyai pola fikir yang masih instant. Petambak garam belum mempunyai wawasan
kedepan tentang bagaimana mengembangkan usaha yang digelutinya. Kendala seperti cuaca maupun fluktuasi harga
yang terjadi dalam waktu yang tidak lama justru menjadi momok yang menakutkan
sehingga melemahkan semangat mengembangkan diri bagi petambak garam. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi
dan pendampingan yang kontinu kepada petambak garam terutama dalam bidang
teknologi dan manajemen usaha. Dibutuhkan
petak percontohan yang melibatkan petambak garam dalam mentransfer teknologi ke
petambak garam, dengan demikian ketika petambak garam melihat hasil dari
teknologi secara langsung, maka akan menjadi daya tarik sendiri dalam
mengaplikasikan teknologi produksi tersebut.
3.2. Strategi Pemberdayaan Petambak Garam di
Kabupaten Lombok Timur
Perumusan
strategi pemberdayaan petambak garam dilakukan dengan metode analisis SWOT,
yaitu dengan menganalisis faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor
eksternal (peluang dan ancaman).
Berdasarkan analisis SWOT, maka dirumuskan strategi pemberdayaan petambak
garam di Kabupaten Lombok Timur yaitu Strategi SO adalah memanfaatkan kekuatan
(stenght/S) secara maksimal untuk
meraih peluang (Opportunies/O),
Strategi ST adalah memanfaatkan kekuatan S (Strenghts)
secara maksimal untuk mengantisipasi dan mengatasi ancaman T (Threats), Strategi WO adalah
meminimalkan kelemahan W (Weaknesses)
untuk meraih peluang O (Opportunies),
dan Strategi WT adalah meminimalkan kelemahan W (Weaknesses) untuk menghindari ancaman (T (Threats) (Subhan Mohammad,
2014).
Startegi
SO yaitu memaksimalkan potensi lahan tambak garam dan keberagaman penggunaan
garam dengan memanfaatkan program pemerintah.
Kabupaten Lombok Timur dengan lahan potensi garam yang cukup luas
menjadi kekuatan tersendiri dalam memajukan dan memberdayakan petambak garam di
Kabupaten Lombok Timur. Ketersediaan
lahan tersebut akan sangat bermanfaat apabila diterapkan berbagai teknologi
produksi yang inovatif antara lain Teknologi Ulir Filter dan Geomembran, Salt House, Corporate Farming dan Bestekin.
Pemberdayaan
petambak garam sudah menjadi issu nasional, hal ini dibuktikan dengan perhatian
pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam memberdayakan
petambak garam yang tertuang dalam program pemerintah sejak tahun 2011.
Strategi
ST adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat petambak garam tentang teknologi
produksi yang inovatif dan ramah lingkungan. Aplikasi teknologi yang inovatif dalam
upaya produksi garam, akan mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi
garam. Dengan demikian, garam yang
dihasilkan bukan hanya untu kebutuhan garam konsumsi melainkan dapat untuk
memenuhi kebutuhan garam industri yang harganya tentu akan lebih mahal.
Aplikasi
teknologi yang inovatif akan menjadi solusi dalam mengatasi kondisi cuaca yang
tidak menentu. Beberapa teknologi
produksi akan memungkinkan bagi petambak garam dalam memproduksi garam pada
musim hujan dan dengan kualitas premium.
Teknologi ini akan menjadi motivasi tersendiri bagi petambak garam dalam
mengembangkan usaha produksi garam yang ditekuninya.
Strategi WO
terdiri dari menjalin kemitraan antara petambak garam dengan pemerintah dan
BUMD dan mengadakan petak percontohan yang melibatkan petambak garam. Kesediaan petambak garam yang sangat minim
dalam menerima teknologi produksi baru menjadi faktor kendala yang sangat
berarti dalam usaha pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur. Masyarakat cenderung beranggapan bahwa
teknologi yang digunakan sampai dengan saat ini merupakan produksi yang sangat
inovatif padahal teknologi yang digunakan masih tergolong sangat tradisional.
Penerapan
teknologi produksi yang tradisional mempengaruhi kuantitas dan kualitas
produksi garam yang dihasilkan sehingga harga garam dan penghasilan petambak
garam menjadi rendah. Masyarakat
petambak garam di Kabupaten Lombok Timur beranggapan bahwa garam yang
dihasilkan merupakan garam yang berkualitas karena tidak keras dan rasanya
manis. Kondisi garam yang dihasilkan
oleh petambak garam di Kabupaten Lombok Timur masih mengandung kadar air yang
cukup tinggi sehingga teksturnya lunak, warna agak hitam disebabkan masih
terdapatnya frekuensi kotoran yang relatif banyak dan rasanya manis karena
rendahnya kandungan NaCl. Kualitas garam
yang baik adalah garam yang keras, putih mengkilap, butiran besar dan
mengandung NaCl yang tinggi.
Kualitas
Sumberdaya Manusia yang tergolong rendah berdampak kepada tertutupnya petambak
garam dalam menerima teknologi baru.
Petambak garam beranggapan bahwa teknologi baru hanyan sekedar tindakan
coba-coba yang tingkat keberhasilannya sangat rendah. Petambak garam akan menerima teknologi baru
apabila mereka dapat secara langsung melihat hasil yang nyata. Mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan
petak percontohan terhadap beberapa teknologi baru yang tentunya melibatkan
petambak garam secara langsung. Selain
itu, studi banding diperlukan untuk membuka wawasan petambak garam terhadap
berbagai perkembangan usaha tambak garam yang digelutinya.
Strategi WT
terdiri dari meningkatkan penyuluhan tentang peluang usaha garam dan penyuluhan
manajemen pengembangan usaha garam. Beberapa
Petambak garam di Kabupaten Lombok Timur melakukan alih fungsi lahan tambak
garam yang dimilkinya menjadi lahan tambak ikan dan udang. Hal ini disebabkan karena petambak garam
beranggapan bahwa usaha garam merupakan usaha yang kurang menguntungkan. Kondisi ini didukung karena produksi garam
sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.
Fluktuasi harga menjadi faktor ancaman bagi petambak garam terlebih pada
musim panen raya. Pada musim panen raya,
harga garam sangat rendah sementara gudang penyimpanan yang dimilki tidak mampu
menampung produksi garam dari petambak garam di Kabupaten Lombok Timur. Kondisi ini memaksa petambak garam untuk
menjual garam yang dihasilkan dengan harga yang sangat rendah karena apabila
tidak dijual sementara tidak tertampung dalam gudang penyimpanan yang dimilki
dan datangnya musim hujan, maka garam tersebut akan kembali mencair akibat
terkena air hujan.
Beberapa kondisi
diatas perlu diatasi dengan melakukan kegiatan penyuluhan tentang peluang usaha
garam dan manajemen pengembangan usaha garam.
Sesungguhnya kondisi cuaca dapat diatasi dengan meningkatkan pengetahuan
petambak garam tentang teknologi produksi yang inovatif. Fluktuasi harga pada saat panen raya tidak
berlangsung dalam waktu yang lama, karena selang beberapa bulan harga garam
akan berangsur-angsur naik bahkan harga menjadi sangat mahal.
Melimpahnya
produksi pada waktu panen raya dapat diatasi dengan pembangunan gudang
sementara. Pembangunan gudang sementara
dapat dilakukan secara swadaya baik secara perseorangan maupun
berkelompok. Kelimpahan produksi juga
dapat diatasi dengan membangun kemitraan dengan BUMD sehingga harga yang
diperoleh oleh petambak garam menjadi lebih stabil. Kemitraan akan menjadi jaminan bagi petambak
garam di Kabupaten Lombok Timur terhadap stabilitas harga garam.
![]() |
IV SIMPULAN DAN SARAN
4.1. Simpulan
1.
Startegi SO yaitu memaksimalkan potensi
lahan tambak garam dan keberagaman penggunaan garam dengan memanfaatkan program
pemerintah;
2.
Strategi ST adalah meningkatkan
pengetahuan masyarakat petambak garam tentang teknologi produksi yang inovatif
dan ramah lingkungan.
3.
Strategi WO terdiri dari menjalin kemitraan antara
petambak garam dengan pemerintah dan BUMD dan mengadakan petak percontohan yang
melibatkan petambak garam;
4.
Strategi WT terdiri dari meningkatkan penyuluhan tentang
peluang usaha garam dan penyuluhan manajemen pengembangan usaha garam.
4.2. Saran
1.
Pemberdayaan petambak garam di Kabupaten
Lombok Timur hendaknya mempertimbangkan strategi yang tela dirumuskan;
2.
Pemberdayaan petambak garam di Kabupaten
Lombok Timur seharusnya melibatkan seluruh stakeholder,
baik pemerintah, Perguruan Tinggi dan
lembaga swasta yang bergerak dalam bidang garam
DAFTAR
PUSTAKA
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur. 2016. Laporan akhir Pelaksanaan program
Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) di Kabupaten Lombok Timur TA. 2016
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
2017. Analisis Data Pokok Kelautan dan
Perikanan 2016. Pusat Data Statistik dan
Informasi. Kementerian Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia
Subhan Mohammad. 2014. Analisis Tingkat Kerusakan
dan Strategi Pelolaan Mangrove di Kawasan Suaka Perikanan Gili Ranggo Teluk
Seriwe Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Tesisi. PSMIL.UNUD. Ecotrophic : journal of
environmental science vol 8, no 1 (2014).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar