Minggu, 12 Mei 2019

STRATEGI PEMBERDAYAAN PETAMBAK GARAM DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT


STRATEGI PEMBERDAYAAN PETAMBAK GARAM 
DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT
SUBHAN, MOHAMMAD

Dosen Fakultas Perikanan Universitas Gunung Rinjani
Selong-Lombok Timur
Email :amakbaeng@yahoo.co.id
baengamak77@Gmail.com

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini Untuk mengetahui strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi stakeholder dan merumuskan strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur.  Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi/wawancara dan studi pustaka.  Persepsi stakeholder  dianalisis dengan analisis kualitatif dan Untuk menentukan strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur dilakukan dengan analisis SWOT
Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan, maka strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain : Startegi SO yaitu memaksimalkan potensi lahan tambak garam dan keberagaman penggunaan garam dengan memanfaatkan program pemerintah.  Strategi ST adalah meningkatkan pengetahuan petambak garam tentang teknologi produksi yang inovatif dan ramah lingkungan.  Strategi WO terdiri dari menjalin kemitraan antara petambak garam dengan pemerintah dan Badan Usaha Milik Daerah, mengadakan petak percontohan yang melibatkan petambak garam.  Strategi WT terdiri dari meningkatkan penyuluhan tentang peluang usaha garam dan penyuluhan manajemen pengembangan usaha garam

Kata Kunci :  strategi pemberdayaan, petambak garam, lombok timur, nusa tenggara barat.

ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the strategy of empowering salt farmers in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. This study uses a qualitative approach that is used to obtain data on stakeholder perceptions and formulate a strategy for empowering salt farmers in East Lombok Regency. The process of data collection is done using the method of observation / interview and literature study. Stakeholder perceptions were analyzed by qualitative analysis and To determine the strategy of empowering salt farmers in East Lombok Regency carried out with a SWOT analysis
Based on the SWOT analysis carried out, the strategy for empowering salt farmers in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province is: SO strategy is to maximize the potential of salt ponds and the diversity of salt use by utilizing government programs. ST's strategy is to increase the knowledge of salt farmers about innovative and environmentally friendly production technologies. The WO strategy consists of establishing partnerships between salt farmers and the government and Regional Owned Enterprises, holding demonstration plots involving salt farmers. The WT strategy consists of increasing education about salt business opportunities and counseling on the development of salt business management
  
Keywords: empowerment strategy, salt farmers, East Lombok, West Nusa Tenggara





I PENDAHULUAN
1.1.             Latar Belakang
Proses produksi garam di Indonesia masih sangat tergantung kepada faktor cuaca.  Curah hujan merupakan faktor pemberi dampak negatif bagi produksi garam mengingat kondisi tambak garam yang dilakukan di sentra-sentra garam yang masih bersifat tradisional.  Garam di Indonesia diproduksi dengan menguapkan air laut yang dipompa kelahan penggaraman (Hernanto dan Kwartatmono, 2011 dalam Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, 2017).
Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai kawasan potensial dikembangkannya usaha produksi garam.  Beberapa Kabupaten/Kota yang mempiliki lahan potensial untuk pengembangan produksi garam di Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain : Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Bima dan Kota Bima (Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, 2017)
Potensi lahan tambak garam di Kabupaten Lombok Timur yaitu seluas 1.383.80 Ha yang terdiri dari lahan produktif seluas 1.177.57 Ha dan lahan tidak produkstif seluas 205.56 Ha.  Keseluruhan luas lahan tersebut tersebar di dua Kecamatan dalam wilayah administratif Kabupaten Lombok Timur yaitu Kecamatan Keruak dan Kecamatan Jerowaru.  Sebaran lahan tambak garam di Kecamatan meliputi Desa Pijot dan Desa Ketapang Raya, sedangkan di Kecamatan Jerowaru meliputi Desa Jerowaru, Desa Pandan Wangi, Desa Pemongkong, Desa Batu Nampar Selatan, Desa Pene, Desa Seriwe, Desa Wakan dan Desa Ekas Buana (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur, 2016).
Teknologi produksi garam yang sedang dikembangkan di Indonesia antara lain : Teknologi Ulir Filter dan Geomembran, Salt House, Corporate Farming dan Bestekin.  Teknologi produksi garam di Kabupaten Lombok Timur dilakukan dengan teknologi tradisional, dimana teknologi ini didapatkan secara turun temurun.  Dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia, Inovasi teknologi produksi garam yang digunakan oleh petambak garam di Kabupaten Lombok Timur relatif terbelakang.
Petambak garam merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan produksi garam, karena sehebat apapun teknologi yang ada, apabila petambak garam tidak memilki semangat untuk maju, maka perkembangan teknologi tersebut tidak akan bermanfaat sebagaimana mestinya.  Berdasarkan pertimbangan kondisi tersebut, maka diperlukan kajian tentang strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur.
1.2  Rumusan masalah
Bagaimana strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.
II METODOLOGI PENELITIAN
2.1.  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2018 sampai dan bulan November 2018 di Kabupaten Lombok Timur
2.2.  Prosedur Penelitian dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi stakeholder dan merumuskan strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur.  Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi/wawancara dan studi pustaka.  Persepsi stakeholder  dianalisis dengan analisis kualitatif dan Untuk menentukan strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur dilakukan dengan analisis SWOT.

III  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.  Persepsi Stakeholder
Kabupaten Lombok Timur memiliki lahan potensial yang cukup luas untuk pengembangan usaha produksi garam.  Aplikasi teknologi produksi yang inovatif dan ramah lingkungan akan membantu meningkatkan produksi baik dari segi kualitas dan kuantitas, sehingga dengan aplikasi yang inovatif maka pemanfaatan garam untuk berbagai kebutuhan baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk kebutuhan industri akan dapat terpenuhi.
 












Beberapa hal yang menjadi kendala dalam pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur antara lain rendahnya kualitas sumberdaya manusia petambak garam terutama dari segi tingkat pendidikan yang masih rendah.  Rendahnya tingkat pendidikan ini mempengaruhi pola fikir petambak garam itu sendiri.  Kualitas sumberdaya manusia petambak garam yang demikian akan mempengaruhi kemampuan untuk menyerap berbagai informasi dan teknologi, keterbukaan petambak garam terhadap teknologi baru sehingga menjadi kendala utama dalam melakukan pemberdayaan petambak garam.

 













Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sejak Tahun 2011 telah mencanangkan program pemberdayaan Usaha Garam Rakyat secara Nasional, dimana Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu lokasi program tersebut.  Selain itu, terdapat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Lombok Timur yang melakukan jual beli garam konsumsi.  Tentunya kedua hal tersebut menjadi peluang bagi masyarakat petambak garam untuk memajukan usaha yang ditekuninya.  Kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa petambak garam belum semangat secara keseluruhan dalam mengembangkan usaha produksi garam.  Bahkan, dibeberapa lokasi telah terjadi alih fungsi lahan tambak garam menjadi lahan tambak ikan dan tambak udang. 
Petambak garam di Kabupaten Lombok Timur mempunyai pola fikir yang masih instant.  Petambak garam belum mempunyai wawasan kedepan tentang bagaimana mengembangkan usaha yang digelutinya.  Kendala seperti cuaca maupun fluktuasi harga yang terjadi dalam waktu yang tidak lama justru menjadi momok yang menakutkan sehingga melemahkan semangat mengembangkan diri bagi petambak garam.   Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi dan pendampingan yang kontinu kepada petambak garam terutama dalam bidang teknologi dan manajemen usaha.  Dibutuhkan petak percontohan yang melibatkan petambak garam dalam mentransfer teknologi ke petambak garam, dengan demikian ketika petambak garam melihat hasil dari teknologi secara langsung, maka akan menjadi daya tarik sendiri dalam mengaplikasikan teknologi produksi tersebut.
3.2.  Strategi Pemberdayaan Petambak Garam di Kabupaten Lombok Timur
Perumusan strategi pemberdayaan petambak garam dilakukan dengan metode analisis SWOT, yaitu dengan menganalisis faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman).  Berdasarkan analisis SWOT, maka dirumuskan strategi pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur yaitu Strategi SO adalah memanfaatkan kekuatan (stenght/S) secara maksimal untuk meraih peluang (Opportunies/O), Strategi ST adalah memanfaatkan kekuatan S (Strenghts) secara maksimal untuk mengantisipasi dan mengatasi ancaman T (Threats), Strategi WO adalah meminimalkan kelemahan W (Weaknesses) untuk meraih peluang O (Opportunies), dan Strategi WT adalah meminimalkan kelemahan W (Weaknesses) untuk menghindari ancaman (T (Threats) (Subhan Mohammad, 2014).
Startegi SO yaitu memaksimalkan potensi lahan tambak garam dan keberagaman penggunaan garam dengan memanfaatkan program pemerintah.  Kabupaten Lombok Timur dengan lahan potensi garam yang cukup luas menjadi kekuatan tersendiri dalam memajukan dan memberdayakan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur.  Ketersediaan lahan tersebut akan sangat bermanfaat apabila diterapkan berbagai teknologi produksi yang inovatif antara lain Teknologi Ulir Filter dan Geomembran, Salt House, Corporate Farming dan Bestekin.
Pemberdayaan petambak garam sudah menjadi issu nasional, hal ini dibuktikan dengan perhatian pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam memberdayakan petambak garam yang tertuang dalam program pemerintah sejak tahun 2011.
Strategi ST adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat petambak garam tentang teknologi produksi yang inovatif dan ramah lingkungan. Aplikasi teknologi yang inovatif dalam upaya produksi garam, akan mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi garam.  Dengan demikian, garam yang dihasilkan bukan hanya untu kebutuhan garam konsumsi melainkan dapat untuk memenuhi kebutuhan garam industri yang harganya tentu akan lebih mahal.
Aplikasi teknologi yang inovatif akan menjadi solusi dalam mengatasi kondisi cuaca yang tidak menentu.  Beberapa teknologi produksi akan memungkinkan bagi petambak garam dalam memproduksi garam pada musim hujan dan dengan kualitas premium.  Teknologi ini akan menjadi motivasi tersendiri bagi petambak garam dalam mengembangkan usaha produksi garam yang ditekuninya.
Strategi WO terdiri dari menjalin kemitraan antara petambak garam dengan pemerintah dan BUMD dan mengadakan petak percontohan yang melibatkan petambak garam.  Kesediaan petambak garam yang sangat minim dalam menerima teknologi produksi baru menjadi faktor kendala yang sangat berarti dalam usaha pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur.  Masyarakat cenderung beranggapan bahwa teknologi yang digunakan sampai dengan saat ini merupakan produksi yang sangat inovatif padahal teknologi yang digunakan masih tergolong sangat tradisional.
Penerapan teknologi produksi yang tradisional mempengaruhi kuantitas dan kualitas produksi garam yang dihasilkan sehingga harga garam dan penghasilan petambak garam menjadi rendah.  Masyarakat petambak garam di Kabupaten Lombok Timur beranggapan bahwa garam yang dihasilkan merupakan garam yang berkualitas karena tidak keras dan rasanya manis.  Kondisi garam yang dihasilkan oleh petambak garam di Kabupaten Lombok Timur masih mengandung kadar air yang cukup tinggi sehingga teksturnya lunak, warna agak hitam disebabkan masih terdapatnya frekuensi kotoran yang relatif banyak dan rasanya manis karena rendahnya kandungan NaCl.  Kualitas garam yang baik adalah garam yang keras, putih mengkilap, butiran besar dan mengandung NaCl yang tinggi.
Kualitas Sumberdaya Manusia yang tergolong rendah berdampak kepada tertutupnya petambak garam dalam menerima teknologi baru.  Petambak garam beranggapan bahwa teknologi baru hanyan sekedar tindakan coba-coba yang tingkat keberhasilannya sangat rendah.  Petambak garam akan menerima teknologi baru apabila mereka dapat secara langsung melihat hasil yang nyata.  Mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan petak percontohan terhadap beberapa teknologi baru yang tentunya melibatkan petambak garam secara langsung.  Selain itu, studi banding diperlukan untuk membuka wawasan petambak garam terhadap berbagai perkembangan usaha tambak garam yang digelutinya.
Strategi WT terdiri dari meningkatkan penyuluhan tentang peluang usaha garam dan penyuluhan manajemen pengembangan usaha garam.  Beberapa Petambak garam di Kabupaten Lombok Timur melakukan alih fungsi lahan tambak garam yang dimilkinya menjadi lahan tambak ikan dan udang.  Hal ini disebabkan karena petambak garam beranggapan bahwa usaha garam merupakan usaha yang kurang menguntungkan.  Kondisi ini didukung karena produksi garam sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.  Fluktuasi harga menjadi faktor ancaman bagi petambak garam terlebih pada musim panen raya.  Pada musim panen raya, harga garam sangat rendah sementara gudang penyimpanan yang dimilki tidak mampu menampung produksi garam dari petambak garam di Kabupaten Lombok Timur.  Kondisi ini memaksa petambak garam untuk menjual garam yang dihasilkan dengan harga yang sangat rendah karena apabila tidak dijual sementara tidak tertampung dalam gudang penyimpanan yang dimilki dan datangnya musim hujan, maka garam tersebut akan kembali mencair akibat terkena air hujan.
Beberapa kondisi diatas perlu diatasi dengan melakukan kegiatan penyuluhan tentang peluang usaha garam dan manajemen pengembangan usaha garam.  Sesungguhnya kondisi cuaca dapat diatasi dengan meningkatkan pengetahuan petambak garam tentang teknologi produksi yang inovatif.  Fluktuasi harga pada saat panen raya tidak berlangsung dalam waktu yang lama, karena selang beberapa bulan harga garam akan berangsur-angsur naik bahkan harga menjadi sangat mahal. 
Melimpahnya produksi pada waktu panen raya dapat diatasi dengan pembangunan gudang sementara.  Pembangunan gudang sementara dapat dilakukan secara swadaya baik secara perseorangan maupun berkelompok.  Kelimpahan produksi juga dapat diatasi dengan membangun kemitraan dengan BUMD sehingga harga yang diperoleh oleh petambak garam menjadi lebih stabil.  Kemitraan akan menjadi jaminan bagi petambak garam di Kabupaten Lombok Timur terhadap stabilitas harga garam.




 












IV  SIMPULAN DAN SARAN
4.1.  Simpulan
1.    Startegi SO yaitu memaksimalkan potensi lahan tambak garam dan keberagaman penggunaan garam dengan memanfaatkan program pemerintah;
2.    Strategi ST adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat petambak garam tentang teknologi produksi yang inovatif dan ramah lingkungan.
3.    Strategi WO terdiri dari menjalin kemitraan antara petambak garam dengan pemerintah dan BUMD dan mengadakan petak percontohan yang melibatkan petambak garam;
4.    Strategi WT terdiri dari meningkatkan penyuluhan tentang peluang usaha garam dan penyuluhan manajemen pengembangan usaha garam.
4.2.       Saran
1.        Pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur hendaknya mempertimbangkan strategi yang tela dirumuskan;
2.        Pemberdayaan petambak garam di Kabupaten Lombok Timur seharusnya melibatkan seluruh stakeholder, baik pemerintah, Perguruan Tinggi dan  lembaga swasta yang bergerak dalam bidang garam

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur. 2016.  Laporan akhir Pelaksanaan program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) di Kabupaten Lombok Timur TA. 2016
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2017.  Analisis Data Pokok Kelautan dan Perikanan 2016.  Pusat Data Statistik dan Informasi.  Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Subhan Mohammad. 2014. Analisis Tingkat Kerusakan dan Strategi Pelolaan Mangrove di Kawasan Suaka Perikanan Gili Ranggo Teluk Seriwe Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.  Tesisi. PSMIL.UNUD. Ecotrophic : journal of environmental science vol 8, no 1 (2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar